Latest Post

#Kamisan 03: 13: Obrolan Malam

Bertahun-tahun nanti, pada suatu senja yang entah ke berapa, sembari duduk dan menikmati kopi hitam di beranda lantai dua rumahnya, ia akan terkenang kepada satu sosok yang pernah menyemaikan bunga di dalam hatinya. Seiring mengakarnya kenangan akan sosok itu, semakin dalam pula kebencian yang ia rasakan kepada dirinya sendiri. Akan tetapi, itu masih bertahun-tahun nanti. Dan saat ini, sosok yang kelak akan dikenangnya tengah bercengkrama dengan dirinya.

“Kenapa?”

“Kau sama sekali tidak romantis.”

“Hmm … aku tidak paham.”

“Dasar lelaki!”

“Hahaha … jadi bagaimana?”

“Apa masih perlu aku jawab?”

“Tentu saja. Kan kau juga yang memaksaku untuk menanyakannya.”

“Hmm … bagaimana, ya?”

“Aku hitung sampai sepuluh. Hitungan ke sepuluh tidak menjawab berarti ‘ya’.

“Sepuluh.”

“Hih! Curang!”

“Habisnya kau lama.”

“Kan segala yang terburu-buru itu tidak baik. Kita harus memikirkannya dulu masak-masak.”

“Itu kan hanya alasanmu saja.”

“Hahaha … aku belajar dari guru yang terbaik.”

“Hmm ….”

“Kenapa?”

“Jadi bagaimana?”

“Hih! Pertanyanya itu mulu. Benar-benar tidak kreatif!”

“Hahaha … habisnya aku ingin mendapat jawaban langsung.”

“Hmm … tidak bisa, ya, kalau kita seperti ini saja.”

“Maksudmu?”

“Ya, seperti ini saja.”

“Aku benar-benar tidak paham. Sungguh.”

“Seperti ini … kau senang, aku senang … yang seperti itulah.

“Bagaimana?

“Hei. Kok diam?”

“Aku benar-benar tidak mengerti. Kau ingin kita tetap seperti ini? Tanpa ikatan apa pun, begitu?”

“Nggg … ya.”

“Kenapa?”

“Susah menjelaskannya. Aku malah takut kau jadi berubah sikap kepadaku kalau aku memberitahukan alasannya.”

“Yang kau takutkan itu sudah pasti akan terjadi bila kau tak mengatakannya sekarang.”

“Jangan!”

“Jangan apa?”

“Jangan benci aku.”

“Karena itu jelaskan alasannya.”

“Oke.

“Ikatan, bagiku hanya menciptakan kesakitan. Karena dengan adanya ikatan, seseorang tidak bisa bergerak bebas melakukan apa yang ia suka. Akan selalu timbul pertimbangan-pertimbangan yang pada akhirnya hanya akan membuat dirinya kehilangan kesempatan. Dan yang paling buruk, adalah ketika seseorang mengikatkan diri kepada orang lain yang pada akhirnya hanya menghancurkannya, meremukannya menjadi keping-keping, memerahnya layaknya sapi, tetapi dalam dirinya tidak ada sedikit pun kekuatan untuk melawan atau bahkan memutus ikatan itu. Ia hanya akan berharap orang lain itu akan segera sadar, alih-alih pergi.”

“Tetapi bukankah tanpa ikatan seseorang pun akan serba salah, karena tidak bisa mengklaim bahwa orang lain itu adalah miliknya?”

“Milik? Apa menurutmu seseorang itu adalah barang? Setiap orang adalah milik dirinya sendiri. Dan itu merupakan satu-satunya pemberian Tuhan yang tidak boleh dirampas.”

“Oke. Aku mengerti.”

“Tidak. Kau tidak mengerti. Kau hanya merasa mengerti.”

“Baiklah. Aku minta maaf.”

“Untuk apa minta maaf. Ampun! Ternyata kau sama munafiknya dengan semua orang. Meminta maaf karena mengatakan apa yang sebetulnya kaurasakan.”

“Oke, oke. Jadi aku harus bagaimana?”

“Nah, kan! Belum apa-apa kau sudah kehilangan dirimu, kebebasanmu. Bertanya apa yang seharusnya dilakukan demi orang lain senang.”

“Aku bingung harus berkata apa.”

“Kalau begitu jangan berkata apa-apa.”

“Hmm … baiklah. Sebaiknya aku istirahat. Selamat malam. Jangan tidur terlalu larut.”


Jakarta, 23 Juli 2015
 

#Kamisan03; 11: Lebah Hitam

Sebatang anak panah melesat cepat dan hampir mengiris telinga kirinya, andai saja Theo tidak terpeleset dan jatuh berguling-guling di rerumputan. Puluhan anak panah lain segera menyusul satu per satu, dan Theo, dengan kecemasan yang memuncak, hanya sanggup terduduk dan memandang mata anak-anak panah itu berkilat tatkala tertimpa cahaya rembulan, yang semakin dekat, lebih dekat.

Silakan kembali mengambil napas, karena kejadian itu masih akan terjadi nanti. Tepatnya, tiga hari setelah hari ini. Sekarang, alangkah baiknya, terlebih dahulu kita mengunjungi Negeri Peri. Negeri di mana tokoh utama kita ini tinggal.

Tidak banyak yang bisa saya ceritakan mengenai negeri yang penghuninya merupakan mahluk-mahluk mini tersebut, selain seperti yang pernah kalian dengar: sebuah negeri yang hijau, subur, kaya akan sumber daya alam, dan seterusnya, dan seterusnya. Akan sangat membosankan bila saya kembali menceritakan sesuatu yang pernah kalian dengar, bukan? Maka kita lewati saja bagian pengenalan semacam itu.

Langsung saja ….

“Joanne …! Di mana kau?” Theo melompat ke tangkai bunga mawar yang melengkung. “Joanne …!”

Sepuluh kaki-ukuran-peri di atasnya, tersembunyi rerimbun tangkai mawar, gadis yang dicarinya tertawa tertahan sambil terus memandang sahabatnya yang tengah mencarinya lewat celah di antara tangkai-tangkai itu. Joanne duduk dengan santainya di atas tangkai yang melengkung, kedua kakinya berayun-ayun dengan anggun. Rambut merahnya menari-nari ketika angin lewat dan membisikan kepada Theo letak keberadaan dirinya. Ia sadar akan hal itu, tetapi ia tidak lari atau bersembunyi. Ia tetap duduk dan tersenyum dan menunggu sahabatnya itu menemukannya.

“Lama sekali kau baru bisa menemukanku,” kata Joanne sesaat setelah Theo muncul.

“Bukan salahku. Aku bahkan tidak bisa mencium aromamu seandainya saja angin tidak membawanya kepadaku. Aroma tubuhmu sangat mirip dengan mawar. Bedanya, ada sedikit aroma manis dalam tubuhmu.” Joanne tersenyum mendengar penjelasan sahabatnya. “Nah, sekarang, turunlah!”

“Tidak. Aku masih ingin duduk di sini.”

“Ayolah, jangan bercanda! Kau tahu itu berbahaya. Turun dan akan kuantar kau pulang.”

“Aku tidak mau. Lagipula, aku tahu aku akan baik-baik saja di sini.”

“Aduh! Kau ini … Dengar, berhentilah bermain-main! Negeri ini sedang tidak aman. Apa kau lupa yang dikatakan Peri Kabar kemarin. Lebah Hitam akan melakukan invasi ke negeri ini karena kita memenjarakan salah seorang warga mereka yang membunuh, seminggu yang lalu. Ya, aku tahu. Peri Perbatasan akan sanggup menghalau mereka … tapi untuk berjaga-jaga saja, kalau-kalau Lebih Hitam lebih kuat dari perkiraan.

“Ayolah, cepat turun.”

“Tidak mau.”

“Aduh, kau ini!”

Dan tepat setelah itu, ketenangan di taman bunga itu berubah menjadi keriuhan. Ratusan Lebah Hitam terbang rendah di atas bunga-bunga Mawar, menciptakan kebisingan yang berasal dari kepak sayap-sayap mereka—juga kata-kata pembakar semangat yang mereka teriakan berulang-ulang.

Tatapan mata Joanne yang membesar terus memerhatikan pasukan itu sambil menarik kedua kakinya dan bersembunyi serapat mungkin dengan batang mawar. Ia hampir berteriak saat tiba-tiba sesuatu menyentuhnya dari arah belakang, dan suara teriakannya itu tentu akan terdengar jika saja Theo tidak segera menutup mulut Joanne dengan telapak tangannya. “Sssttt … ini aku. Tenanglah,” katanya, sambil kembali memandang ke segerombolah Lebah Hitam yang terbang dua puluh kaki-ukuran-peri dari dirinya berada. “Sekarang sudah terlambat. Sangat berbahaya jika kita pulang ke rumah sekarang. Yang paling baik adalah tetap tersembunyi.”

Joanne menangguk-anggukan kepala dengan kaku. Matanya mulai berkaca-kaca. Mulutnya membuka dan ia menekankan punggung tangan kanannya ke dalamnya. “Ssttt … tenanglah. Semua akan baik-baik saja, seperti katamu. Ada aku di sini.”

Belum genap satu tarikan napas setelah ia mengatakan itu, seekor Lebah Hitam tiba-tiba muncul di hadapannya, menyeringai, mengucapkan “Halo … “ dengan perlahan. Dan tanpa membuang waktu, Theo menarik Joanne dan berlari menjauhi mahluk hitam itu.

“Ada 2 peri yang sedang bermain di sini, Teman-teman! Kemarilah!” teriaknya, “Mari kita buat permainan mereka lebih seru.” Dan ia kembali menyeringai.

Theo terus berlari dan berlari. Di belakangnya, Joanne terus mengikuti sambil terus menyumpal mulutnya agar tidak menangis. Daun-daun Mawar beberapa kali menampar tubuh mereka, tetapi mereka terus berlari. Yang terdengar kemudian adalah tawa membahana, isakan, ratapan … Joanne dan Theo terkepung dan mereka benar-benar tidak bisa melakukan apa pun.

“Bagaiman teman-teman. Kita apakan mereka?”

“Bunuh saja. Tidak ada gunanya membiarkan mereka hidup.”

“Ya, bunuh saja.”

“Ya, setuju. Bunuh saja.”

“Baiklah, jika kalian sudah memutuskan.” Dan Lebah Hitam yang pertama kali menemukan mereka berjalan mendekat dengan perlahan ke arah mereka.

“Tunggu. Jangan dibunuh.” Seekor Lebah Hitam tiba-tiba angkat bicara. “Aku punya ide yang lebih baik.” Lebah Hitam yang tengah berjalan berhenti dan kemudian menoleh. “Kita jadikan saja salah satunya menjadi tawanan untuk kemudian kita tukar dengan teman kita yang mereka tangkap. Penyerangan ini, aku rasa tidak akan menghasilkan apa pun. Terlebih, pasukan kita tinggal tiga-perempatnya dan kita semua kelelahan. Kita bawa salah salah satunya dan biarkan yang lainnya melapor kepada raja.”

Usul itu tidak langsung diterima. Terjadi perdebatan terlebih dahulu yang pada akhirnya semua sepakat untuk menyetujui saran tersebut.

“Baiklah, kita bawa anak perempuan ini dan biarkan yang satunya melapor kepada raja. Kau paham, Bocah, laporkan kepada raja persis apa yang kaudengar tadi!”

Segera setelah itu, gerombolan Lebah Hitam terbang kembali ke negerinya. Negeri yang jauhnya 3 hari perjalanan bagi peri dengan berjalan kaki
 

#Kamisan03; 10: Upi dan Kisah Cinta

Upi berencana untuk tidak menuliskan kisah cinta. Meski bagaimanapun, hal itulah yang selalu terlintas dalam kepalanya saat melihat gambar yang menjadi bahan tulisannya. Sebuah foto; sepasang kaki—hanya kaki, dari pinggang ke bawah—pria dan wanita, tengah berhadap-hadapan di trotoar, dengan latar tembok yang dipenuhi grafiti. Ada sesuatu yang karib dalam foto itu, sebuah emosi, sebuah perasaan asing, sebuah kekuatan yang entah, yang terus saja menghantam dinding-dinding ingatannya hingga jebol. Dan karena alasan itulah, selama lima jam duduk di depan laptopnya, tiada lain yang dilakukannya kecuali duduk dan sesekali menunduk, meremas sambil menyisir dengan jari, rambutnya yang hitam ke belakang.

Upi masih tetap berencana untuk tidak menuliskan kisah cinta. Itu sudah biasa. Ia bosan. Ia ingin menuliskan sesuatu yang lain, yang menantang imajinasinya sampai taraf tak terlampaui. Tapi, bisakah? Sementara, ketika menatap foto di dalam layar laptopnya itu, ia seperti mendengar deru napas seorang wanita yang berlari: suara sol sepatu si wanita yang bergesekan dengan trotoar yang kering, kibasan jaket warna biru muda yang si wanita kenakan. Bahkan ia serasa bisa mendengar degub jantung si wanita yang dipaksa bekerja lembur. Masih dalam bayangannya, rambut panjang si wanita yang berwarna hitam dikuncir kuda, beberapa helainya menempel pada kening, pipi, yang basah oleh keringat. Sorot mata si wanita sarat akan kecemasan. Dan batin si wanita terus mengulang-ngulang satu kata “Tidak, tidak, tidak!”.

Upi mulai menarikan jemarinya di atas keyboard, mencoba menuliskan yang lain itu. Ia sadar, jika hanya dipikirkan, tulisannya tidak akan pernah rampung. Maka ia putuskan untuk menulis acak, menuliskan apa pun yang pertama kali terlintas. Tentu, selain yang berhubungan dengan cinta. Dan, mulailah ia menulis tentang sebuah kerajaan yang diserang oleh sekawanan lebah raksasa. Pada titik ini dia berhenti, berpikir, kenapa lebah? Kemudian, seolah disadarkan oleh sesuatu di luar kuasanya, ia mengabaikan pertanyaannya sendiri lantas kembali menulis. Belum genap satu halaman, ia merutuk, dan menghapus keseluruhan cerita yang sudah dibuatnya. Entah bagaiamana, tiba-tiba saja cerita tentang penyerangan lebah itu berbelok menjadi kisah cinta. Pasukan lebah raksasa menyerang. Kerajaan memberikan perlawanan. Dan ketika itulah, si komandan lebah yang sebetulnya tengah bertempur sengit dengan salah seorang panglima, tiba-tiba saja melihat sosok putri kerajaan yang jelita. Celaka. Sebuah tombak tiba-tiba menembus tubuhnya. Ia jatuh. Terkapar. Dan sesaat sebelum mati, ia memohon kepada Tuhan Para Lebah untuk dihidupkan lagi sebagai manusia. Dan kemudian itulah yang terjadi.

Upi masih bertahan pada pendapatnya: tidak akan menuliskan kisah cinta. Sudah terlampau banyak kisah cinta yang ia tulis. Sampai ia sendiri lupa, itu kisah dirinya atau kisah tokoh fiksinya. Karena keduanya memang sama banyaknya. Ia pernah menulis tentang hari-hari bersama kekasih yang, saat ketika ia menuliskannya, sebetulnya telah menjadi mantan kekasih. Mulanya ia baik-baik saja. Dan merasa bahagia karena telah menuliskannya. Lama berselang, barulah ia sadar bahwa yang dilakukannya hanyalah menaburkan garam pada luka. Ia berhenti. Kemudian menghapus semua tulisannya sendiri. Menghilangkan jejak. Meski ia sadar, tidak satu kata pun yang hilang dalam pikirannya.

Kemudian cerita lain. Dan cerita lain. Semuanya adalah tentang cinta dan luka. Air mata dan kehilangan. Jarak dan kesetiaan. Ia memang selalu menuliskan kisah cinta, tapi tanpa bebunga atau sandiwara.

Upi masih menatap foto di dalam layar laptopnya. Dan belum juga tahu akan menuliskan apa. Karena satu-satunya hal ia tahu hanyalah kisah cinta. Akan tetapi, kali ini, Upi tidak ingin menuliskannya.


*gambar diambil dari ...  
 

#Kamisan03; 9: Pada Suatu Sore di Tepi Pantai

Baik. Cukup. Ini sudah keterlaluan. Sangat-amat-keterlaluan. Aku tahu aku ini hanyalah tokoh rekaannya; tetapi bukan seperti ini caranya. Apa dia berpikir dirinya adalah Franz Kafka, sehingga merasa berhak membuat tokoh rekaannya, yang pada malam sebelumnya masih seorang bocah tetapi keesokan paginya telah menjadi seekor kecoa? Tidak, tidak. Dia tidak menjadikanku seekor kecoa, lebih buruk lagi; boneka beruang yang dekilnya minta ampun.

Menurutku kecoa masih lebih baik, karena paling tidak dia bisa terbang. Meski, ya, kautahulah, dalam cerita yang ditulis Kafka, kecoa itu akhirnya mendapat perlakuan tidak adil dan akhirnya mati. Tapi, ya, dia bisa terbang. Sementara menjadi boneka, ampun, berjalan saja sudah sangat susah. Kakiku sangat pendek, belum lagi bunyi decitan tiap kali kaki keparat ini menginjak lantai. Dan kautahu apa yang paling menyebalkan, ekor bulat di atas pantatku yang bergoyang ke kanan-kiri tiap aku berjalan. Sialnya, kedua orangtuaku malah menganggap hal itu lucu.

Ketika aku bangun pagi tadi, aku tidak merasakan sesuatu yang aneh. Aku melompat turun dari ranjang sebagaimana biasanya, berjalan ke kamar kecil seperti pagi-pagi sebelumnya, tanpa menyadari bahwa ranjangku semakin tinggi sampai aku harus melompat turun dan jarak ranjang ke kamar kecil semakin jauh. Aku pun tidak sadar saat berada di depan wastafel—wastafel itu semakin tinggi, aku sampai secara tidak sadar menarik kursi hanya agar bisa bercermin—dan tetap tidak sadar saat air yang mengucur membasahi tempat yang seharusnya adalah telapak tanganku. Tapi, toh, dengan tangan boneka semacam itu aku masih bisa mencuci muka. Dan di sanalah, saat perlahan-lahan kesadaranku pulih, mataku menangkap sesuatu yang seharusnya adalah tanganku sedang mencengkeram pinggiran wastafel. Secara reflek aku pun mengangkat keduanya, membolak-balikannya, dan menatapnya dengan keingintahuan seekor monyet yang sedang kelaparan. Dan begitu aku mengangkat wajah dan memandang ke dalam cermin … tidak ada hal lain selain berteriak, dan selanjutnya adalah adegan kaget sebagaimana sering kalian di televisi: terjerembab ke belakang.

“Sudahlah, Sayang, jangan terlalu dipikirkan,” Ibuku berkata lembut sambil jari-jari tangan kananya membelai tangan kananku—maksudku, bagian yang seharusnya adalah tangan kananku, “Tidak ada yang salah dengan tiba-tiba menjadi boneka. Kau nampak semakin lucu.”

Aku mendesah. “Tapi, Bu … “ mengangkat wajah dan bersitatap dengan Ibuku, dan seketika itu aku langsung sadar tak ada gunanya berdebat dengannya, “Ibu tidak akan mengerti.”

“Kalau begitu, coba buat Ibu mengerti.”

Aku diam. Sejujurnya aku pun tidak punya jawabannya. Karena setelah dipikir-pikir, kalau boleh jujur, menjadi boneka ternyata tidak buruk-buruk amat. Maksudku, peluangku untuk mendekati para gadis menjadi semakin besar. Aku bosan terus-terusan menjadi—mengutip istilah penulis favorit Tuanku—seorang pria yang memeluk lutunya sendiri. Ya, dengan menjadi boneka, para gadis akan mengelilingiku. Karena ukuran tubuhku yang pendek, mereka akan berjongkok dan bagian yang paling indah akan terlihat semakin indah. Belum lagi jika mereka memelukku, kepalaku berada dia antara … sudahlah, aku tahu kalian sudah paham dan aku pun tidak ingin merusak reputasiku sendiri.

“Kau tiba-tiba terlihat senang. Ada apa?”

Aku terkesiap. Dan dengan segera membuang jauh-jauh apa-apa saja yang baru kubayangkan. “Sudahlah, Bu, aku mau jalan-jalan.”

Decitan kaki bonekaku menjadi satu-satunya suara di ruangan itu. Dan entah bagaimana, saat aku berjalan, aku yakin Ibuku masih terus tersenyum dan memandangku.

***

Dari mata bonekaku, segalanya terlihat berbeda. Bukan hanya karena semuanya terlihat lebih tinggi dan aku harus terus mendongak untuk melihat ke sekeliling, melainkan juga karena segalanya terlihat gegas—barangkali hal ini karena kakiku yang pendek yang membuatku tak bisa berjalan cepat. Semua orang terlihat buru-buru, mereka tak acuh dengan yang lain; berjalan dengan langkah rapat dan cepat dengan kepala yang terus menekuri gawai. Sebelumnya aku tidak pernah memerhatikan hal ini. Raut-raut wajah lelah mereka, pundak-pundak mereka yang melorot. Dan berkali-kali kaki-kaki mereka menendangku seolah aku ini sampah.

Aku membelok ke sebuah gang demi lolos dari kerumunan itu. Dan selama beberapa jenak, aku bisa bernapas lega, sampai tiba-tiba aku mendengar sesuatu dari dalam tong sampah. Seandainya aku mempunyai jakun, aku yakin inilah saat di mana jakunku itu naik dan turun, tetapi tidak ada jakun di sana, dan bahkan aku tidak mempunyai leher.

Aku pernah melihat seekor anjing yang dengan buas mengoyak perut boneka dengan taringnya. Anjing itu terus dan terus menggeram, sambil menggoyang-goyangkan kepala. Dan aku belum pernah melihat seekor kucing melakukan hal yang sama. Akan tetapi, kenyataan itu tidak serta merta membuatku tenang.

Sesuatu, atau seekor entah apa, meloncat dari tong sampah itu dengan sangat cepat. Hitam. Berekor panjang. Berbulu. Dan berbadan besar. Dan terlihat menjadi semakin besar saat hewan itu mengangkat tubuhnya. Moncongya yang runcing bergerak-gerak mengendus entah apa. Tubuhku memang lebih besar dan tinggi daripadanya, tetapi hal itu tidak membuatku merasa tenang. Lebih-lebih saat moncongnya yang menjijikan itu berada sekian centi dari bulu-bulu bonekaku. Mengendus dan mengendus.

Kau barangkali berpikir kenapa aku tidak lari saja? Cobalah kau berada di posisiku, berhadap-hadapan dengan hewan buas yang ketangkasannya, kecepatannya, kekuatannya, melebihi dirimu, apa kau bisa begitu saja berlari, tanpa menarik minatnya untuk memburumu? Tidak, tidak, meskipun aku sungguh-sungguh ingin lari, tetapi aku tidak bisa melakukannya saat ini.

Tikus itu masih terus mengendusiku, kali ini bukan hanya dari depan karena tiba-tiba ia berjalan mengelilingiku, seolah-olah sedang mencari mana bagian tubuhku yang paling enak untuk digigit terlebih dahulu.

Tikus keparat! Lihat saja bila nanti aku sudah menjadi manusia lagi. Akan kubakar kau hidup-hidup!

Itu pun jika tikus keparat itu tidak menggigitku terlebih dahulu. Gigitan tikus, kautahu, mengandung semacam penyakit—aku lupa namanya, tetapi jangan salahkan aku atas kelupaan itu, karena bagaimanapun, pengetahuanku sebatas pengetahuan Tuanku—dan jika sampai kau tergigit, itu akan menjadi sesuatu yang gawat. Kau akan menggelepar seperti ikan yang kehilangan air, mulutmu akan mengeluarkan busa, dan kau merasa sekujur tubuhmu terbakar. Dan lama-kelamaan, tubuhmu akan mengecil, mengecil, dan semakin kecil, sampai seukuran tikus yang menggigitmu, dan kemudian akan tumbuh ekor di bagian belakang tubuhmu, bulu-bulu hitam yang kasar, bentuk tengkorakmu akan berubah dan mulutmu akan menjadi moncong, dan kemudian kau resmi menjadi tikus … baiklah, itu tadi hanya bercanda, aku mengatakannya hanya agar aku lupa di mana aku saat ini.

Tikus itu masih berputar dan berputar. Mengendus dan mengendus. Dan tiba-tiba berhenti. Tepat di posisinya semula: di hadapanku. Moncongnya masih mengendus. Semakin dekat. Semakin dekat … sebuah suara tiba-tiba mengalihkannya, sebuah kaleng yang jatuh entah karena apa. Ia menoleh. Lantas cepat-cepat kabur dari tempat itu. Aku mengembuskan napas lega.

Aku berjalan tak tentu arah. Dan ketika aku sadar, tahu-tahu aku sudah berada di tepi pantai. Tidak jauh dari tempatku berdiri, aku melihat seorang gadis tengah duduk sendirian, menunduk. Mungkin sedang merenungkan entah apa. Aku memberanikan diri untuk mendekatinya. Lantas dengan susah payah naik agar bisa duduk di sebelahnya. Otakku mulai mereka-reka adegan demi adegan perkenalan kami. Mula-mula, aku akan berbicara tentang cuaca: “Cuaca yang indah, ya!”, “Oh, iya”, “Omong-omong, di cuaca yang seindah ini, kenapa kau terlihat murung?” barangkali dia tidak akan langsung menjawab, memberi jeda terlebih dahulu, bertingkah seolah-olah tidak peduli dan ingin sendiri, “Tidak apa-apa”, “Oh, Ayolah, ceritakan saja. Jangan kaukira karena aku ini boneka, aku tidak akan mengerti perasaanmu. Oh, iya, namaku …” dan aku akan menyebutkan namaku. Dan tentu setelahnya dia pun akan menyebutkan namanya, dan kemudian, kami akan saling terbuka dan segalanya akan berjalan lebih mudah.

Sempurna!

Aku pun mulai menyiapkan diri, dan sedikit demi sedikit mendekatinya. Pada tahap ini, aku akan memeragakan sesuatu yang biasanya ditulis oleh para penulis: napasku tiba-tiba terasa memburu dan dadaku terasa sesak dan kerongkonganku terasa kering dan waktu seolah merangkak pelan.
Sekarang waktunya.“Hmm … cuaca sore ini indah, ya!” Tanpa menoleh atau menjawab, tiba-tiba gadis itu berdiri, dan dengan keanggunan yang tak terbantahkan, pergi dengan perlahan. Tiba-tiba aku ingin memeluk lututku sendiri.
 

#Kamisan 03; 6: Tuan Jati

Pintu mahoni yang dicat dengan warna merah-gelap itu membuka dengan kecepatan yang hanya mampu ditandingi oleh mereka yang sedang terkena diare. Tiga orang bergegas masuk. Menyusul di belakang mereka, adalah dua laki-laki berbadan tambun dengan kepala plontos bersetelan rapi yang berlari terengah-engah.

“Maaf, Tuan. Kami sudah menecoba menghentikan mereka, tetapi—“ kata-kata yang hendak keluar langsung tertelan kembali begitu Jati mengangkat tangan kirinya, sementara wajahnya masih menghadap mangkuk di hadapannya dan mulutnya masih sibuk mengunyah mie yang terus disuapkan tangan kanan. Lelaki itu mundur setengah langkah dengan kepala tertunduk dan kedua tangan terpaut di depan perut.

Jati menarik serbet di kerah bajunya, dan menyeka mulutnya dengan kain berwarna putih tersebut dan melemparkan sembarang di atas meja. Pelayan perempuan di sebelah kanannya segera menghampiri dan mengambil serbet itu, juga mengangkat mangkuk mie dan gelas, dan menyapukan lap ke bercak yang ditinggalkan mangkuk dan gelas di atas permukaan meja. Segera setelah itu, ia berjalan mundur beberapa langkah, menundukkan kepala, dan berjalan melewati lima orang yang berdiri di depan pintu dan tidak lagi terlihat setelah berbelok ke kanan.

Kedua lelaki yang datang terakhir bergerak-gerak gelisah. Dan tidak satu pun dari keduanya yang mengangkat wajah. Sementara tiga orang yang masuk lebih tersenyum dengan penuh kemenangan. Jati menusukkan pandang ke masing-masing mereka. Kemudian mendorong punggungnya ke punggung kursi.

“Darkum, Sapar, tidak apa-apa. Kembalilah ke tempat jaga masing-masing.”

“Siap!”

Dan kedua lelaki kekar tersebut berbalik dan pergi. Jati mengambil rokok Surya 16 di atas meja dan meloloskannya sebatang, kemudian menyalakannya. Lantas mengembuskan asap putih dari mulutnya dengan kepuasaan yang hanya dipahami oleh mereka yang mengerti. “Ada apa, Bon? Dan, siapa mereka?”

Bono, pria yang berdiri di tengah, tersenyum. “ Pria ini, Ruslan. Aku mengajaknya bergabung karena ia jago mengendarai mobil. Dan perempuan ini, Sutri. Aku mengajaknya karena ia lihai memperdaya lelaki.”

“Hmm … oke. Lalu?”

Mereka bertiga saling pandang satu sama lain dan kemudian, seperti telah disepakati bersama lewat tatapan-tatapan, Bono maju satu langkah. “Begini, Tuan. Kami berhasil.”

“Ya, kami berhasil mendapatkannya,” sambung Ruslan, kemudian maju satu langkah.

“Ya, USB itu telah berhasil kami dapatkan,” susul Sutri, kemudian maju satu langkah.

Kini, mereka bertiga kembali sejajar.

Dahi Jati berkedut samar ketika mereka berbicara. Ia kembali mengembuskan asap putih itu. “Begitu, ya? Hebat,” katanya, tanpa rasa tertarik sedikitpun. Lantas ia mengarahkan tangan kanannya ke asbak dan menjentikkan batang rokok. “Sekarang, di mana benda itu?”

Mereka bertiga kembali saling pandang. Dan masing-masing dari mereka tersenyum seperti rubah.

“Kita bicarakan soal itu nanti, Tuan.” Bono kembali memulai. “Yang lebih penting, bagaimana dengan bayaran kami.” Sekali lagi, ia tersenyum dan kedua tangannya yang sejak tadi tidak bisa diam itu saling meremas. “Dengar, Tuan. Misi yang Anda berikan ternyata jauh lebih sulit dari dugaan saya. Itulah kenapa saya akhirnya mengajak mereka berdua.”

“Mobilku hampir meledak dihujani tembakan dari tank-tank di tempat itu.”

“Dan aku hampir diperkosa oleh pria yang entah berapa tahun tidak mandi.”

Bono tersenyum kepada kedua temannya. “Jadi, kami berinisiatif untuk sedikit menaikkan harga. Ya, mengingat apa yang sudah kami lakukan dan betapa berharganya benda itu bagi Anda.”

Jati mendengus dan kemudian tertawa samar. Teramat samar dan itu berlangsung teramat singkat.

“Kami ingin masing-masing mendapat satu juta dollar.”

Jati menaikkan satu sisi bibirnya. Memandang lurus ke pria yang baru saja berbicara. “Satu juta dollar untuk masing-masing kalian?”

“Ya.”

“Tidak boleh kurang satu sen pun.”

“Dan kertasnya harus yang baru. Aku suka aroma uang baru. Aromanya seksi.”

Mula-mula samar, kemudian gelak tawa Jati memantul-mantul dinding-dinding ruangan. “Kalian gila! Kalian ingin aku membayar kalian semua tiga juta dollar untuk benda itu?”

Mereka bertiga saling pandang dengan cemas.

“Apa kalian sudah melihat isinya?”

Sekali lagi, mereka saling pandang. Kemudian menggeleng dengan perlahan.

“Sudah kuduga.” Dan Jati kembali tergelak. “Dengar, Bono, dengar!” katanya, di tengah tawanya. “Kau sudah bekerja bersamaku selama tiga tahun ini, dan baru sekarang kau berani memerasku. Katakan, siapa di antara mereka yang mengusulkan ide bodoh itu kepadamu? Biar kuledakkan kepalanya sekarang juga.”

Bono menggeleng ragu-ragu. “Ti-tidak. Tidak ada yang ada yang mengusulkan apa pun.”

“Begitu?”

Jakun Bono bergerak naik-turun. Kemudian ia mengangguk.

Jati mendengus. Rokok di tangannya ia gencet ke asbak. “Baiklah, begini saja,” katanya, lantas menyandarkan punggungnya ke punggung kursi, “kauberikan benda itu kepadaku dan kulupakan kekurangajaranmu ini. Juga kumaafkan kedua temanmu itu.” Jari-jarinya saling mengait di depan perut. “Bagaimana?”

“Ti-tidak. Kami tetap mau masing-masing mendapat satu juta dollar.”

“Ya. Walaupun kami belum tahu isinya, tetapi kami yakin itu sangat penting. Jika tidak, bagaimana mungkin benda itu dijaga dengan penjagaan level lima.”

“Ya, dia benar. Orang bodoh mana yang mau membuang-buang uang untuk melindungi benda yang tidak berarti.”

Jati mendesah. “Ya, sudah, jika kalian tidak percaya. Benda itu tidak berarti apa pun buatku. Paling, isinya hanya film tentang seorang pria yang bercinta dengan robot, atau pria yang berbicara dengan daun sawi, atau yang semacamnyalah. Itu pun jika benar USB itu ada isinya.”

“Omong kosong. Kau pasti berbohong.”

“Ya, tidak mungkin isinya hal-hal semacam itu. Kami nyaris mati.”

Sementara kedua temannya mendebat, Bono diam dan hanya menatap nanar ke lantai. Tawa Jati samar-samar menyusup ke ingatannya.
 

#Kamisan03; 5: Tokoh-Tokoh Imajiner yang Meperbincangkan Ketidakcakapan Tuannya

Mereka bertiga—seorang pria, seorang wanita, dan seorang gadis kecil—sedang duduk melingkari meja dan bersama-sama memperhatikan seorang lelaki yang duduk mematung dan memunggungi mereka.

Di hadapan si lelaki, di atas meja, sebuah laptop terbuka dan sebuah garis hitam berkedip-kedip di pojok halaman, yang tak menampilkan apa pun selain garis berkedip itu dan bermacam perintah di atasnya.

Salah satu di antara mereka bertiga—si Pria—mendesah, sembari menjauhkan tubuh dari pinggir meja dan bersandar pada punggung kursi sambil terus menatap si Lelaki.

“Bagaimana menurutmu?”

Si wanita menghela napas lelah. “Entahlah. Sepertinya ini akan berakhir seperti sebelumnya.”

“Se-per-ti-nya?” ulang si pria, menatap lurus si wanita lalu mencodongkan tubuh ke sosok yang duduk menentangnya itu. Ia menggunakan kedua tangan untuk menopang berat tubuhnya. “Dengar! Ini tidak akan se-per-ti-nya. Karena ini me-ma-ng a-kan seperti sebelumnya.”

Si wanita memutar kepalanya dengan kesal. “Ayolah, Jati. Tidakkah kau memiliki sedikit saja kepercayaan kepada Tuan kita?”

Jati diam. Dan untuk beberapa lama, mereka berdua hanya saling menatap. “Tidak.” Jati kembali menjauhkan tubuhnya. “Rasa percayaku untuk si keparat itu sudah habis.”

“Jati!”

“Apa?”

Si wanita tak melanjutkan kata-katanya, karena sebetulnya ia pun tidak memiliki bantahan apa pun untuk membela Tuannya.

“Sadarlah, Kilan. Akui saja bahwa kepercayaanmu terhadap si keparat itu pun sudah habis. Kenapa sih, kau harus pura-pura masih percaya kepadanya?”

Perlahan, Kilan menarik kedua tangannya dari atas meja, menunduk, bersandar pada punggung kursi sebagaimana Jati, lantas kedua jemari tangannya memilin-milin ujung baju.

Jati melengos dan menatap punggung Tuannya. Paha kirinya dinaikkan ke atas paha kanan, sementara tangannya bersedekap di depan dada. “Jika aku bisa keluar, tentu aku akan keluar dari pikiran si keparat ini, dan mencari Tuan yang lain. Tuan yang gemar menulis cerita-cerita tidak masuk di akal dan tidak mudah dipahami pun tak apa. Karena yang terpenting dari sebuah cerita, adalah cerita itu sendiri. Daripada harus terjebak dan disia-siakan seperti ini.”

Dada Jati naik-turun dengan cepat. Dan tiba-tiba saja, ia merasa dadanya kian sesak dan matanya pun kemudian menatap penuh amarah ke punggung Tuannya. “Brengsek! Si keparat itu bahkan tidak menciptakanku dengan benar! Aku tidak tahu seperti apa tanganku, kakiku, bentuk rambutku, wajahku, umurku … ia hanya menciptakanku sebagai sosok lelaki!

“Aku rasa kau pun tahu bagaimana yang kurasakan karena kau pun diciptakan dengan cara yang sama: hanya sebagai wanita! Tidak ada sesuatu yang khusus pada diri kita—selain nama, tentu saja. Peranku bisa digantikan olehmu, pun sebaliknya. Ini benar-benar keterlaluan!

“Dan kau tahu apa yang paling menyebalkan?” tantangnya, “Ayolah, aku tahu kautahu! Kita berada di tempat yang sama dan segala yang kutahu kau pun mengetahuinya. Ayolah, katakan!” Kilan tetap bergeming, semakin dalam menundukkan kepala. “Baiklah, jika kau tak mau mengatakannya. Biar aku saja yang mengatakannya: ia merasa bisa lebih baik dari siapa pun jika saja ia mau melakukannya.

“Hah! Sebuah kesombongan yang kelewat gila, kan?”

Kursi yang diduduki Jati berderit begitu ia mengempaskan tubuhnya dengan keras. Ia mendesah dengan segenap kekuatan. Dadanya masih naik-turun, meski dengan perlahan, gerakannya semakin lama semakin pelan. Dan tatapan menusuknya pada punggung si Tuan pun kian lama kian lunak. Kedua tangannya kini bertelekan pada pinggang.

Si Lelaki yang menjadi obrolan mereka, tiba-tiba saja mengetikkan beberapa kata di laptopnya. Terdengar bunyi ketukan yang merdu. Mulanya yang muncul hanya beberapa kata, hingga akhirnya menjadi puluhan, kemudian ratusan. Dan mendadak, kedua tanganya menggantung di udara. Entah berapa lama. Barangkali hanya hitungan detik. Kemudian, karena alasan yang mereka semua tahu dengan pasti, ia menghapus lagi semua kata-kata itu. Ia menopangkan kedua sikunya di atas meja, meremas-remas wajahnya dengan kesal, lantas menunduk dengan kedua telapak tangan lunglai di atas kepala. Kemudian, sembari mendesah, menarik mundur secara perlahan kepalanya lewat bawah telapak tangan. Rambutnya, yang sebelumnya memang sudah berantakan, menjadi bertambah berantakan karena tindakan itu.

“Ya,” kata Jati, sembari mengangkat bahu dan sedikit merentangkan kedua tangannya, “aku sudah menduga ia akan melakukan hal itu. Aku tidak kecewa.” Lantas menyilangkan kedua tangannya di atas meja dan membenamkan kepala di atasnya. “Brengsek!”

Kilan mendesah. Ketika si Lelaki memainkan jemarinya, tadi, ia menatap Tuannya itu dengan kesungguhan yang memuncak. Dan sekarang, tatapannya berganti tatapan seorang anak yang dijanjikan akan diajak bermain oleh si Ayah, namun si Ayah kelewat sibuk sampai akhirnya berkata disertai helaan napas lelah, “Lain kali, ya, Sayang. Ayah janji”.

“Menurutmu, apa yang tadi ditulisnya?” katanya, tanpa mengalihkan pandangan dari punggung Tuannya.

Jati tetap membenamkan wajah dan hanya mengangkat tangan kanannya dengan malas, sembari berujar, “Tidak tahu. Paling sesuatu yang ia anggap sesuai dengan tema Kamisan. Atau yang seperti itulah.” Lantas tangan itu terkulai dan kembali jatuh.

“Kau kan sudah tahu, bagaimana cara berpikir Tu-an ki-ta itu,” sambungnya, tanpa mengangkat kepala. “Menulis sesuatu yang berhubungan dengan tema, tetapi sebetulnya yang ditulisnya itu tidak berhubungan sama sekali. Tempelan belaka. Sekadar agar lolos dari denda bayar buku.

“Licik bukan?”

“Ya, mau bagaimana lagi. Ia terlalu malas untuk mengumpulkan informasi, memilahnya, dan membuatnya jadi sesuatu yang berarti. Padahal, tema kali kan, ini sedang hangat-hangatnya. Batu akik. Jika saja ia mau sebentar saja berjalan ke pasar Jatinegara, atau pasar lainnya, atau ke lantai dasar Blok M, pasti ia kan menemukan banyak hal menarik seputar batu akik. Atau ia pun sesungguhnya bisa mendaptkan informasi itu dari internet, atau bertanya kepada teman-temannya yang memang suka sekali dengan batu itu. Atau ia bisa menceritakan kisah temannya yang dikatai banci karena memakai batu yang ukurannya seukuran biji salak. Tetapi, ya, seperti yang kubilang tadi: ia terlalu malas.”

“Begitulah dia.”

Kilan menghela napas lelah, memajukan tubuhnya, dan bertopang dagu di atas meja. “Bila diingat-ingat lagi, tulisannya tidak ada yang benar-benar sesuai dengan tema. Tempelan belaka. Andai ia mau serius sedikit saja ….”

“Ayolah, kau sudah tahu ia tidak pernah benar-benar serius terhadap sesuatu. Ia selalu ragu dengan yang dikerjakannya. Ia bukan tipe pemimpin, bahkan untuk dirinya sendiri.”

Kilan terenyak. Menatap Jati yang masih saja membenamkan wajahnya. “Apa aku tidak salah dengar. Kesan yang kutangkap, kau simpati kepadanya. Bukannya tadi marah-marah?”

“Marah-marah, bukan berarti tidak peduli. Aku hanya tidak tahu harus bersikap bagaimana lagi terhadap sifat buruknya itu.” Jati mengangkat sedikit kepalanya, menoleh dengan tetap mempertahankan posisinya ke arah Tuannya. “Lagipula ….”

“Apa?”

Jati masih terus menatap punggung si Lelaki yang telah menciptakannya. “Tidak. Tidak apa-apa.” Ia pun kemudian menegakkan tubuh, berdiri sembari mendorong kursi yang didudukinya, meregangkan otot-ototnya. “Aku mau berjalan-jalaan sebentar. Mau ikut? Upi?”

Kilan menggeleng. Dan Upi, gadis kecil yang sejak tadi diam saja dan hanya memeluk boneka beruangnya, sembari terus menatap punggung si Lelaki tidak jauh di hadapannya, berujar pelan, “Aku di sini saja. Masih ingin menemani Kakak. Siapa tahu Kakak nanti memerlukan aku.”
 

#Kamisan03: 4: Kembang Api

Tawa tidak bisa dijadikan tolak ukur bahwa seseorang bahagia. Karena terkadang, saking kerasnya hidup menonjok hidungmu, maka yang kemudian bisa kaulakukan hanyalah tertawa. Sebelum mengalaminya sendiri, aku berpikir hal itu lucu—sangat lucu. Barangkali kalian pun berpikir demikian: menertawakan sebuah kesialan. Betapa menggelikan! Akan tetapi, saat hidup menonjok persis hidungmu sendiri, percayalah, kalian pasti akan tertawa.

Atau tidak.

Aku masih tergelak ketika mata biru wanita itu memandangku dengan tatapan tidak percaya. Alis sebelah kanan wanita itu terangkat sedikit, dan kerutan-kerutan muncul di dahinya. Mulutnya membuka namun tak ada satu pun kata yang keluar. Barangkali tawaku yang pecah telah membuat kata-kata yang hendak keluar macet di tenggorokan, atau … entahlah. Aku sama sekali tidak memiliki gagasan lain selain itu.

“Maaf,” katanya, setelah tawaku hanya tinggal sisa.

Aku menjawabnya dengan kibasan tangan. Lantas kembali bersandar pada punggung kursi, menatap langit-langit yang dicat cokelat menyerupai kayu, mengalihkan lagi tatapanku ke barista yang sibuk meracik kopi, ke sekumpulan remaja yang duduk sambil tertawa-tawa di bangku luar, ke sepasang pria dan wanita yang baru saja masuk, ke lantai, ke lukisan yang entah karya siapa, ke sekumpulan foto hitam-putih yang dibingkai, ke potongan berita dari koran entah apa, yang juga dibingkai dan diletakkan di dinding, di dekat foto, ke mana pun, selain ke arahnya. Kemudian ia kembali berbicara. Mengatakan alasan, betapa dia sebenarnya tidak menginginkan hal ini terjadi, betapa semua yang terjadi di luar kekuasaannya sendiri. Dan selama ia berbicara, aku sama sekali tak memandangnya.

Ia menyentuh lembut tangan kananku, membelainya. Aku menaraik napas panjang seraya menarik tangan, kemudian menatapnya. Satu detik. Dua detik. Dan sejujurnya, aku teramat sadar bahwa jeda yang tercipta tidaklah seberapa lama. Akan tetapi, sebagaimana kalian tahu bahwa waktu hanyalah ilusi, detik yang singkat itu terasa sangat panjang.

“Kita bicarakan besok saja, ya.”

Lantas aku berdiri dan meninggalkannya. Dia tidak melarang atau bahkan mengejar. Tentu saja.

***

Aku berhenti di taman kota, semata-mata karena tidak tahu mau ke mana lagi. Aku tidak ahli dalam urusan mencari kesenangan. Satu-satunya kesenangan yang kutahu hanyalah duduk berjam-jam sambil bermain Pro Evolution Soccer. Akan tetapi, dengan perasaan seperti ini, aku bisa menjamin bahwa hal itu akan sia-sia belaka.

Taman kota yang kumaksud hanya taman biasa yang biasa kalian lihat di kota-kota kalian. Bangku-bangku panjang, air mancur, lampu-lampu besar, rumput, pohon … ya, seperti yang sudah kukatakan: biasa kalian lihat di kota-kota kalian.

Aku diam dan tidak tahu mau ke mana atau berbuat apa. Tidak seorang pun yang kukenal di sini. Dan aku pun agak malas membaur. Dulu aku sering berpikir, keluar rumah, berjalan-jalan, melihat hal-hal baru, mengajak bicara siapa pun yang mau diajak bicara, tetapi yang terjadi kemudian adalah semua yang kupikirkan itu hanya terjadi dalam pikiran. Aku masih sama dengan satu hari yang lalu. Atau satu bulan. Atau satu tahun. Atau barangkali itu tidak benar juga. Barangkali ada juga yang berubah pada diriku. Hanya saja, karena aku yang berubah, dan perubahan itu terjadi secara perlahan, aku tidak menyadarinya. Orang-orang di sekelilingku yang menyadarinya. Dan biasanya mereka akan berkata, dengan nada yang sama persis yang digaungkan oleh aktor kelas teri, “Kamu berubah,” yang tentu saja kubalas dengan tawa.

Terkadang, didorong oleh perasaan entah apa, kata-kata teman-temanku kupikirkan juga. Namun hanya sampai sebatas itu. Karena tidak lama kemudian, aku pasti lupa.

Aku akan terus diam dan berdiri tanpa tahu harus melakukan apa jika saja pengasong yang kebetulan lewat tidak menawariku kopi. Aku tersenyum dan menyebutkan kopi yang segera saja ia racik dalam gelas plastik. Sebetulnya aku tidak terlalu ingin minum kopi, namun karena aku tidak tahu hal lain lagi, maka kemudian itulah yang kulakukan. Gelas plastik yang kumaksud memiliki ukuran yang sama dengan gelas plastik air mineral di toko-toko. Terlintas dalam pikiranku bahwa gelas plastik itu memang benar-benar gelas plastik air mineral. Gelas plastik yang sudah dibuang, dikumpulkan oleh seseorang dan kemudian dijual kepada para pengasong itu. Untuk beberapa detik aku merasa jijik, dan berniat membuangnya begitu si pengasong pergi. Tapi toh pada akhirnya aku meminumnya juga.

Aku berjalan ke tengah taman dengan perlahan, sambil sesekali meniup-niup kopi yang masih panas lantas menyesapnya. Duduk di salah satu bangku seorang diri. Di sekelilingku, orang-orang tengah bergerombol dan mengobrol, bernyanyi, bermain, melakukan hal-hal yang membuat mereka bisa melupakan betapa letih mereka siang tadi. Aku menoleh ke kanan dan kiri dan menemukan beberapa orang yang agaknya sama sepertiku: duduk sendirian sambil menolehkan kepala ke kanan dan ke kiri. Aku tersenyum. Mengetahui bahwa bukan hanya aku yang mengalami hal semacam ini, entah kenapa membuatku senang. Aku tidak yakin bahwa kesenangan semacam itu bisa dibenarkan, tetapi percayalah, tidak ada seorang pun yang mau memikul penderitaan seorang diri.

Aku menyesap kopiku secara cepat dan menjauhkan gelas itu dengan kecepatan dua kali lipat. Kopi itu masih panas dan aku merasakan lidahku melepuh. Aku benci hal ini. Untuk beberapa jam ke depan, atau lebih buruk lagi—beberapa hari, aku tidak akan bisa mencecap secara sempurna.

Aku masih mengutuki kecerobohanku sendiri saat tiba-tiba kudengar sebuah suara kembang api, disusul suara orang-orang yang terperangah. Aku pun lantas mendongak dan benar saja, sebuah kembang api melesat ke udara dan meledak, menciptakan keindahan yang singkat. Aku tidak tahu kembang api itu dilontarkan dari mana dan untuk alasan apa, dan sejujurnya aku tidak ingin mencari tahu. Aku cukup duduk di sini dan menikmatinya saja.

Kembang api itu ditembakkan secara berurutan dan melesat cukup tinggi. Meski beberapa tidak melesat setinggi yang lain, dan tidak meledak secara sempurna, namun hal itu tidak benar-benar menjadi masalah. Karena dengan melihatnya saja aku sudah cukup terhibur. Aku menolehkan kepala ke sekeliling, dan agaknya mereka pun sependapat denganku. Tidak ada yang mempermasakan kegagalan itu; tidak ada yang meributkan kembang api yang melesat rendah dan bahkan hanya meletup.
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. lihnlines - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger